Buttman – Super Hero Ajib Ala Denny Row

Buttman

Halo sobat Tutorial Networks! Pada postingan kali ini saya tidak akan memberikan postingan mengenai tutorial. Kenapa? Pertama, masih rada sibuk dengan kerjaan. Kedua, lagi mentok ide. Dan yang ketiga, ada cerita yang menarik dari BIAF 2016 yang menurut saya jauh lebih menarik untuk diceritakan.

Seperti yang sudah anda ketahui, BIAF 2016 – pergelaran akbar internasional animasi sejagat raya -baru saja selesai seminggu yang lalu. Ada banyak informasi, pelajaran serta pengalaman berharga yang saya dapatkan di sana, meski cuma satu hari.

Salah satu pelajaran berharga saya dapat dari kang Denny Row. Waktu itu secara nggak sengaja saya di ajak sama pak Lan Kelana untuk beli minuman ke bawah, ketemu sama akang-akang lagi pada ngobrol. Teu wawuh sebenerna mah, tapi da kelihatannya ngebahas komik, jadi weh ikutan.

Dari pembicaraan itulah saya baru sadar kalau orang yang duduk di sebelah kiri saya adalah kang Denny Row. Punten kang, nggak kenal, da dina poto fb mah akang teh gondrong, wkwkwkw. Beliau adalah seorang bos konveksi yang terkenal suka begadang tengah malam.

Ada satu nasihat kang Denny Row yang menurut saya sangat luar biasa yaitu soal “fokus supply terhadap market”. Iya sih, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandangnya sebagai pebinis konveksi. Tapi ternyata, sudut pandang ini sangat bisa digunakan pada industri yang lain, khususnya komik.

Pada hari itu kebetulan saya sempat di ajak oleh kang Irvan untuk ikut melihat presentasi Adam Ham, CEO GCMA, yang jauh-jauh datang dari Malaysia. Adam Ham adalah orang yang ada di belakang kesuksesan industri kreatif Malaysia. Konon kabarnya, beliau mulai tahun ini akan membantu Indonesia untuk mencapai kesuksesan yang sama. Mantap nih.

Dan seperti dejavu, apa yang dikatakan oleh  kang Denny Row sama persis dengan yang dikatakan oleh Adam Ham. Beda di bahasa aja. Kang Denny Row mah make bahasa Sunda, kalau Mr. Adam Ham mah using english language.

Intinya tetap sama.

Supply Management.

Ketika sebuah vendor mampu memberikan supply yang solid kepada sebuah market, maka roda bisnis akan bergerak. Kalau gagal, ya susah. Kenapa Malaysia jalan dengan animasinya? Karena studionya bisa supply 1 season (13 episode) dengan rutin kepada televisi. Kenapa Jepang maju dengan manganya? Karena mangaka jepang bisa supply 1 chapter (19 halaman) per minggu kepada publisher. Kenapa si Buttman teu dicalana? Nah, ini mah salahnya si kang Denny.

Okelah, memang ada beberapa faktor pendukung lain untuk menjalankan industri kreatif selain supply management. Ada faktor pemerintah, media, bank dan sebagainya. Tapi sebagai titik awal, mampu menyediakan produk yang bisa memenuhi sebuah “kuota” adalah modal awal yang mutlak harus dimiliki.

Sehingga kesimpulannya, jika industri komik Indonesia mau maju maka industri ini juga harus mampu memberikan supply yang “rutin”. Coba tengok jadwal terbit manga-manga terjemahan. Rutin kan? Memang nggak terbit sebulan sekali, tapi produk baru selalu ada. Selalu terupdate, dan selalu berhasil memancing para fans untuk merogoh koceknya.

Satu lagi sindiran dari kang Denny. Yang harus ditingkatkan di Indonesia, bukan hanya budaya membaca tetapi juga budaya membeli. Bukan budaya minjem, apalagi budaya nyolong, hehehe.

Pokoknya seru banget lah, ngobrol soal masa depan industri komik dengan si akang yang satu ini. Santai, simpel, jiga nu heureuy tapi pemikirannya luas, fokus dan bertanggung jawab. Satu-satunya yang tidak bertanggung jawab dari kang Denny Row adalah karena dia selalu menggambar tokoh si Buttman teu make calana.

Buttman

Apa itu Buttman? Saya pernah baca komik strip ini sesekali kalau muncul di Timeline. Dan waktu itu penilaian saya sederhana, ini adalah parody batman. Ceritanya simpel dan kebanyakan berkutat seputar “butt”. Waktu itu saya pikir yang nggambarnya lagi nggak punya kerjaan. Selepas BIAF saya mulai penasaran dengan yang namanya Buttman dan membaca satu per satu komik stripnya dari awal.

OK. Pandangan saya pun langsung berubah saat membaca semuanya. Sekilas ini memang parody batman, tapi dari cerita-ceritanya, saya merasakan ada unsur kegilaan spongebob dan teman-temannya. Ini bukanlah komik superhero tapi murni komik komedi bernuansa dark yang mungkin tidak terlalu disukai semua orang.

Salah satu keseriusan kang Denny Row saat menggarap Buttman, terlihat dalam komik pendek berjudul Cakit Peyut.

Ceritnya simpel dan kocak. Cuma ngegambarin bagaimana sebuah obat sakit perut bekerja. Tentunya, obat sakit perut ala Buttman. Panel terakhir adalah panel penutup yang pas, karena ditutup dengan peniupan ‘lilin ulang tahun’. Wkwkwkw. Ceritanya memang super ajib dan nyeleneh. Tapi komik ini sekaligus menggambarkan imajinasi liar seorang Denny Row.

Selain komik panjang tadi ada beberapa komik Buttman lain yang sukses bikin saya nyengir. Ya, ya, ya, saya mulai suka si bocah tengil ini.

 

Dan dari keseluruhan gambar Buttman, gambar yang paling saya suka adalah gambar ini.

14100259_10208930269325552_9019292329596793130_n

Kenapa saya suka gambar nih? Well, kalau soal ini, mungkin hanya mahasiswa saya saja yang mengerti kelakuan dosennya kalau sudah berhubungan dengan cilok, hehehe.

Sukses terus kang Denny Row. Dan bagi anda semua yang penasaran, seperti apa sih tampang kang Denny Row yang konon katanya ganteng seperti Brad Pit? Berikut saya kasih fotonya.

Awas! Jangan gagal fokus ya.

(Visited 66 times, 1 visits today)

Rickman Roedavan

Penulis buku Unity Tutorial Game Engine. Ia juga seorang dosen, sistem analis dan praktisi bisnis di bidang Transmedia Storytelling. Buku-bukunya antara lain The Astrajingga, Serial Kiky Si Kancil, Antologi Everna Saga, Arassi dan Fantasy Fiesta.

Satu tanggapan untuk “Buttman – Super Hero Ajib Ala Denny Row

  • November 28, 2016 pada 1:12 am
    Permalink

    Tengkiyu Mr.Rickman
    Sukses Selalu
    Salam dari
    Denny Row +Buttman

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares
IndonesiaEnglish